Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan

Tangisan Hujan

1 komentar
hujan datang di musim ini, di penghujung bulan desember yang basah oleh gerimis hati. hadirnya tak pernah ternikmati oleh mereka yang berhati bagai batu. selalu perih namun hujan senantiasa datang dan datang lagi dengan setianya. tak peduli dimana kapan dan bagaimana...... keyakinannya terpegang erat dalam dekapan mendung kelabu di atas awan.


"aku juga ingin dianggap ada", demikian suatu kali hujan berbisik pada angin yang berhembus disela-sela gedung tinggi dan belukar alam raya.

"kau ada, namun tak setiap jiwa bisa merasanya", jawab angin acuh tak acuh seraya terbang membumbung tinggi menembus langit gelap. melayang menyapa pohon, sungai, hutan, gunung,dan entah apa.

perih menghujam hujan kala kehadirannya tak senantiasa diharap.. dipaksa berucap namun hanya kelu yang terluap. pengap................cuma
senyap.

hujan menangis dan menangis semakin hebat. jiwanya gemetar semakin kuat.. ia seperti di tarik paksa untuk hadir di suatu tempat...dan dijejali semua kata keramat yang ia tak mampu melumat.

perih..perih..perih......jiwanya merintih........

"menyingkirlah hujan ! agar tak ada lagi jiwa yang tersakiti oleh mu.... pergilah sejauh mungkin karena tempat yang kau kunjungi hanyalah fatamorgana, oase semu di tengah kemarau panjang yang tak terelaki.......!!!!" usir sebuah suara tanpa rupa .

airmata hujan membanjir serupa bah, berteriak tanpa suara..menangis sekuat tenaga hingga membenamkan seluruh kota dengan airnya yang bergejolak..marah......

kemudian...tangisannya perlahan senyap.....

"tolong aku....." ujarnya lirih....sedemikian lirih hingga tak ada yang mampu mendengarnya bahkan hatinya sendiri.


( Sementara itu ditempat terpisah...sesosok tubuh terpaku melihat hujan yang mengamuk di luar jendela. sendirian disudut ruangan itu, menatap lelehan hujan yang menetes. Hujan ada diluar, tapi dia pun merasai tetesan yang sama mengalir di pipinya. dan Dia begitu membenci hujan saat itu, begitu membencinya....)

Gerimis Hati

1 komentar
Entah sudah yang keberapa ribu kali
aku berjalan dibawah gerimis yang menyembunyikan
tangis dan air mataku
entah sudah berapa ribu tetes air
yang jatuh dan membasahi seluruh tubuhku
entah berapa derainya yang menderas...
kuyup aku...
sepi...dimanakah aku?
sendiri....
entah siapa yang peduli
namun aku tahu.....hanya hujan yang menemani..

Hujan Berbisik Pada Angin

0 komentar
Hujan berbisik pada angin..
Tentang sebuah makna yang tersirat
Dari sepotong hati yang terluka
Hujan yang lelah
Membasahi seluruh kehidupan
Sementara ia kian mengering, kerontang

Angin merayu sang hujan
‘jangan merapuh’
Basahmu masih sangat dirindu

Tapi hujan tetap tak bergeming
Seluruh tubuhnya mengering
Kemudian layu……

Hujan Bulan Juni ( Sapardi JD )

0 komentar

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Hujan Bulan April

0 komentar

Hari demi hari terlewati
Dengan bayangku tentangmu
Yang semakin menghilang, sunyi....
Dan membeku

semula tak pernah terlintas sedikitpun
bahwa kamu mulai retak
untuk kemudian pecah jadi ribuan keping tangis hati
sementara aku
masih mencoba untuk punguti
serpihan sisa tawamu
walau tanpa bentuk yang nyata...

Dan akhirnya
Melangkah ku menembus hujan...
Sendirian..........

Lelaki dan Hujan

0 komentar

Dahulu, angin pernah berbisik kepada hujan
Bahwa walau mereka tak bersama
Namun angin akan selalu menunggu
Sampai hujan datang kembali
Hujan memegang janji itu dan pergi menjauh
Singgah di tempat-tempat yang membutuhkan kehadirannya
Mengelana tanpa arah, dan mencari jalan kembali pulang kepada angin…
Ketika hujan kembali di tempat yang sama
Ia melihat angin bercumbu rayu dengan rembulan
Hilang segala janji, lepas segala asa…
Hingga hujan pergi menyerah kalah
Tercabik hatinya, jauh…sangat jauh…….
Ia mengamuk, melewati tempat2 dan meluluhkantakkannya
Mencipta badai, merupa banjir…

Namun lelaki itu berdiri di tengah amarah sang hujan
Tenang…tak bergeming meski sekitarnya tak lagi berbentuk
Ditatapnya sang hujan, dengan mata yang menghujam dalam
“mengapa engkau mengamuk serupa badai, wahai hujan yang indah ?”

“aku terluka oleh janji yang dikhianati…terperih oleh bibir yang mendusta”
Lalu menangislah hujan sedemikian nestapa, hingga airmatanya menjadi rinai yang menderas
Lelaki itu memeluk hujan dengan rengkuhan dalam dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya dengan airmata
“Menangislah, namun jangan pernah meratapi”

Begitulah…hingga akhirnya hujan tak lagi bisa terpegang janji..
Tak pernah datang pada saatnya, tak pernah pergi ketika harus pergi..
Alam tak lagi bisa ditebak karena hujan tak lagi berkata-kata
Diam membisu sepuluh ribu bahasa, begitu senyap…..
Airmatanya mengering , kerontang bak batu cadas,
Hujan enggan mengelana, bersembunyi di sudut kelam
Tak seorangpun tau dimana ia,
Alam meretak panas, bumi tepecah retas,

Sampai suatu ketika, lelaki itu kembali menemuinya,
“hujan..tak lelahkah kau bersembunyi hingga entah nanti ?”

“aku lelah, teramat lelah….aku terluka parah..aku menyerah”

I”hidup bukan untuk ditangisi, hujan….
Hidup adalah berkah, kau adalah berkah, jangan menyerah kalah…”

“aku tercabik, tercekik tak sanggup memekik mengeluh sakit..”

“kembalilah..jutaan nafas menunggumu..
Berharap kau tak berlalu dengan bisu,
Bicaralah agar mereka mengertimu
Bicaralah, walau kau tak mau
Karena hanya kau yang mampu
Merubah dunia tak lagi sendu…”

“wahai malaikat penolong, katakan padaku apa yang tersisa
Setelah tak lagi ada seluruh asa
Terbungkam oleh rasa tak berdaya ?”

“saat ini, aku berdiri di sini untuk kau mengerti
Ku terjang mentari, ku tapaki titian pelangi
Karena ku tahu, disana kau bersembunyi
Menanti datang saat sunyi…
namun pelangi akan segera pergi
tak ada lagi tempat tuk lari,
hanya satu tempat tuk kembali…dalam pelukanku ini…”

hujan menatap sang lelaki
yang dilihatnya bukan ilusi atau imaji
diraihnya jemari lelaki ini
dan disentuhnya sepenuh hati

“aku akan pulang….asal kamu mau berjanji
Tak akan meninggalkanku sendiri…”

“hujan….hanya janji yang aku miliki…”
Direngkuhnya hujan dalam dekapan sang lelaki.